loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan potensi penguatan dolar AS. Kondisi tersebut turut dipengaruhi gejolak harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Untuk rupiah sendiri kemungkinan mengalami pelemahan mencapai Rp17.850-an, bisa saja lebih dari Rp17.850-an," ujar Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya yang dikutip di Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Ditutup Ambles ke Rp17.611 per Dolar AS, Intip Biang Keroknya
Ibrahim memproyeksikan indeks dolar AS bergerak dalam rentang 90,30-100,20 pada pekan depan. Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari ketidakpastian pasar keuangan global dan dinamika arah kebijakan moneter AS.
Eskalasi konflik geopolitik, khususnya perselisihan AS dan Iran di kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang mendorong investor memburu aset aman (safe haven), terutama dolar AS. Di sisi lain, konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda turut mempertahankan volatilitas pasar keuangan dan berpotensi mengganggu rantai pasok serta mengerek harga komoditas energi.
Dari pasar komoditas, Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada pekan depan bergerak di kisaran USD91,60-USD103,50 per barel. Gangguan aktivitas pelayaran di jalur laut strategis kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang berpotensi menopang kenaikan harga minyak. "Ini yang membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata Ibrahim.
Baca Juga: KTT BRICS di India, Indonesia Ajak Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Adapun kenaikan harga minyak meningkatkan risiko tekanan inflasi global yang pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Apabila The Fed kembali memperketat kebijakan moneter atau mempertahankan suku bunga pada level tinggi, dolar AS berpotensi semakin menguat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
(nng)








































