loading...
China diragukan akan menolong Iran jika diinvasi oleh militer Amerika Serikat. Foto/US Navy/Petty Officer 1St Class Jeremy F
TEHERAN - China telah muncul sebagai pemain kunci dalam konfrontasi Iran yang meningkat dengan Amerika Serikat (AS). Ketegangan telah memanas setelah Washington mengancam akan menginvasi Teheran dengan dalih mendukung demonstran yang marah atas keruntuhan ekonomi.
Pada awal Januari, demonstrasi besar-besaran yang dipicu oleh kesulitan ekonomi, ketidakpuasan politik, dan tekanan asing yang berkelanjutan menimbulkan salah satu tantangan domestik paling serius yang dihadapi kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Jenderal Tertinggi Israel: AS Akan Serang Iran dalam 2 Minggu hingga 2 Bulan!
Kerusuhan tersebut segera berujung pada ketegangan regional yang semakin meningkat, ketika Presiden Donald Trump memerintahkan pengerahan militer AS dalam jumlah besar ke Timur Tengah dan mengeluarkan peringatan yang menuntut Iran untuk membatasi program nuklir serta pengembangan rudal balistiknya.
Selama protes nasional pecah, China dilaporkan membantu otoritas Iran dalam menerapkan pemadaman komunikasi nasional.
Pada 15 Januari, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga mengecam ancaman AS sebagai kembalinya "hukum rimba", membandingkan apa yang dia gambarkan sebagai agresi Amerika dengan tawaran China untuk memainkan "peran konstruktif" dalam membantu pemerintah dan rakyat Iran bersatu.
Pada Sabtu, 31 Januari, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran berencana untuk mengadakan latihan Angkatan Laut gabungan dengan China dan Rusia pada pertengahan Februari di Samudra Hindia bagian utara.
Pengumuman tersebut diikuti oleh gelombang klaim yang belum terkonfirmasi secara daring yang menuduh bahwa China memberikan bantuan militer kepada Iran, serta spekulasi tentang apakah pemerintah China akan campur tangan jika terjadi konfrontasi militer dengan AS.
Iran Memperdalam Hubungan dengan China
Selama bertahun-tahun, China telah menjadi salah satu mitra ekonomi dan diplomatik terpenting Iran, menyediakan jalan keluar penting karena Teheran menghadapi sanksi AS yang luas dan tetap berada dalam daftar hitam Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF). Pembatasan ini telah sangat membatasi akses Iran ke sistem keuangan global dan membuatnya bergantung pada China untuk perdagangan dan dukungan politik.
Hubungan itu telah mengambil dimensi keamanan yang lebih tajam sejak perang 12 hari Iran dengan Israel pada Juni 2025. Dalam beberapa bulan setelahnya, Iran dan China dilaporkan memperluas perjanjian kerja sama keamanan yang dirancang untuk meningkatkan pertukaran intelijen dan koordinasi terhadap ancaman eksternal yang dirasakan.































