Harga Kebutuhan Pokok Terkendali, Jakarta Alami Deflasi 0,23%

2 hours ago 4

loading...

Deflasi menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali seiring turunnya harga pangan. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Provinsi DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,23% (month to month/mtm) pada Januari 2026 setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 0,33% (mtm). Deflasi tersebut menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali seiring turunnya harga pangan dan transportasi di awal tahun.

"Deflasi pada periode ini terutama berasal dari penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta kelompok Transportasi," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan seperti dikutip, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga: Harga Cabai Merah Turun, Indonesia Deflasi 0,15% di Januari 2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Jakarta tercatat lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang mencapai 0,15% (mtm) pada periode yang sama.
Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,96 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,55 persen (yoy). Relatif tingginya inflasi tahunan Jakarta dipengaruhi oleh low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik pada periode pembanding tahun lalu.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan sebesar 1,57% (mtm), berbalik arah dari inflasi 1,07% (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan harga terutama didorong oleh komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring masuknya musim panen.

Kelompok Transportasi juga mencatat deflasi sebesar 0,69% (mtm) setelah sebelumnya mengalami inflasi 0,65 persen (mtm). Penurunan ini terutama dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi per 1 Januari 2026. "Normalisasi permintaan transportasi pasca Nataru turut mendorong penurunan tarif angkutan udara serta tarif angkutan antarkota," tambah Iwan.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |