loading...
Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi
Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
TIDAK ada satu pun peradaban manusia yang runtuh karena kurangnya kecerdasan. Yang ada justru sebaliknya: manusia terlalu cerdas untuk tidak menyadari betapa rapuh dirinya. Dari kesadaran inilah -akan kelaparan, kematian, dan konflik- lahir peradaban. Bukan sebagai kemenangan rasio, melainkan sebagai strategi bertahan hidup spesies yang tahu bahwa ia bisa gagal.
Jika kita kupas peradaban hingga ke lapisan biologisnya, maka kita menemukan tiga naluri yang terus bekerja, bahkan ketika namanya berubah: politik, agama, dan konsumsi. Ketiganya bukan ciptaan budaya semata, melainkan ekspresi dari otak evolusioner yang sama -otak yang harus mengatur kekuasaan, memberi makna pada penderitaan, dan memastikan energi tetap tersedia.
Politik muncul dari kebutuhan mengelola ketergantungan sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, tetapi hidup bersama selalu membawa risiko. Maka politik berfungsi sebagai mekanisme pengatur ketakutan kolektif: siapa memimpin, siapa dilindungi, dan siapa boleh dipinggirkan. Ia tidak pernah sepenuhnya rasional, karena ia bekerja langsung pada emosi sosial yang lebih tua daripada logika formal. Itulah sebabnya simbol, identitas, dan rasa “kami” selalu lebih kuat daripada argumen terbaik.
Agama hadir di sisi lain ketakutan: bukan takut pada sesama, tetapi pada kefanaan. Kesadaran akan kematian membuat manusia tidak cukup hanya bertahan hidup; ia ingin hidupnya berarti. Agama menyediakan makna yang melampaui individu, waktu, dan tubuh. Dalam kerangka evolusi, ia berfungsi sebagai perekat sosial dan penenang psikologis - sebuah sistem yang memungkinkan manusia tetap kooperatif meski masa depan tak pasti. Ketika agama dituntut menjawab pertanyaan sains, ia goyah; tetapi selama manusia mencari makna, ia bertahan.
Konsumsi melengkapi dua naluri lainnya. Ia berakar pada kelaparan purba, tetapi berkembang menjadi bahasa status dan identitas. Dalam dunia modern, naluri ini kehilangan rem alami. Otak yang berevolusi untuk kelangkaan kini hidup di tengah kelimpahan. Akibatnya, konsumsi tidak lagi menjawab kebutuhan biologis, melainkan mengisi kekosongan makna yang gagal dipenuhi oleh politik dan agama.





































