Indonesia Didorong Aktif dalam Diplomasi Pencegahan Perang Dunia III

2 hours ago 1

loading...

Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam. Foto/Istimewa

JAKARTA - Eskalasi geopolitik global yang kian tajam dalam beberapa hari terakhir ini. Hal itu ditandai ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait Greenland, potensi perang besar Iran-Israel didukung AS, dan potensi percepatan China mengambil alih Taiwan yang dipertahankan oleh AS, Jepang, hingga pakta pertahanan AUKUS, memunculkan kembali kekhawatiran akan potensi pecahnya Perang Dunia III .

Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menilai, perang besar bukan lagi sekadar skenario fiksi atau alarmisme berlebihan, melainkan risiko nyata yang semakin terbuka.

"Selama ini banyak pihak cenderung under-estimate, seolah perang besar tidak mungkin terjadi di era saling ketergantungan ekonomi global. Padahal, eskalasi kekuatan besar yang kini semakin tidak menentu, membuat Perang Dunia III bukan lagi skenario fiksi, melainkan risiko nyata yang benar-benar berpotensi terjadi," ujar Umam dalam keterangannya, dikutip Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: SBY: Perang Dunia III Sangat Mungkin Terjadi, Desak PBB Gelar Sidang Darurat

Menurut doktor alumnus School of Political Science and International Studies, The University of Queensland, Australia tersebut, dunia hari ini menunjukkan pola klasik menjelang perang besar sebagaimana tercatat dalam sejarah pra-Perang Dunia I dan Perang Dunia II di awal abad ke-20. Polarisasi aliansi, pembangunan kekuatan militer secara masif, ekonomi yang dipersenjatai, serta geopolitik yang benar-benar panas kini kembali terlihat semakin jelas.

Umam menjelaskan, jika tidak ada kekuatan kolektif untuk mencegah memburuknya situasi geopolitik ini, skenario terburuk akan memunculkan dua matra perang paling rawan. Pertama, lanjut Umam, matra Eropa yang kini diuji melalui krisis Greenland dan konflik internal di tubuh NATO.

"Tekanan Amerika Serikat terhadap Denmark dan sekutunya berpotensi memicu respons keras Eropa, sekaligus memperlihatkan retaknya kohesi Blok Barat pasca-Perang Dunia II. Pencaplokan Greenland bisa menjadi tanda bagi pengkhiatan komitmen pakta pertahanan kolektif NATO yang dijaga selama 80 tahun terakhir ini," kata Umam.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |