loading...
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebut perang Timur Tengah pecah jika AS menginvasi Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan semuanya tergantung dari hasil negosiasi Iran-AS. Foto/A2News
TEHERAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah merespons peringatan yang disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahwa perang Timur Tengah akan pecah jika Washington nekat menyerang Teheran. Trump mengatakan itu semua tergantung pada Teheran untuk membuat kesepakatan atau tidak.
"Tentu saja dia akan mengatakan itu," kata Trump ketika ditanya tentang peringatan yang dilontarkan Khamenei.
“Semoga kita bisa mencapai kesepakatan. Jika tidak, maka kita akan tahu apakah dia benar atau tidak," katanya lagi, seperti dikutip dari Al Arabiya English, Senin (2/2/2026).
Baca Juga: Khamenei Ancam Perang Besar Akan Terjadi di Timur Tengah Jika AS Menyerang Iran
Peringatan Khamenei disampaikan pada hari Minggu. Dia awalnya menyamakan protes anti-pemerintah Iran baru-baru ini dengan kudeta, yang kemudian memperingatkan bahwa setiap serangan AS terhadap Republik Islam akan memicu perang regional.
"Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional," kata Khamenei, seraya mengatakan kepada warga Iran bahwa mereka tidak perlu takut dengan retorika Trump.
Demonstrasi di Iran dimulai sebagai ekspresi ketidakpuasan atas tingginya biaya hidup, tetapi berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah massal yang digambarkan oleh para pemimpin negara Islam tersebut sebagai kerusuhan yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Mereka (para perusuh) menyerang polisi, pusat pemerintahan, pusat IRGC [Korps Garda Revolusi Islam], bank, dan masjid, serta membakar Al-Quran...Itu seperti kudeta,” kata Khamenei. "Kudeta tersebut telah ditumpas," ujarnya.
Teheran telah mengakui lebih dari 3.000 kematian selama protes, tetapi bersikeras bahwa sebagian besar adalah anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tidak bersalah, dan mengaitkan kekerasan tersebut dengan “tindakan teroris".
Namun, kelompok hak asasi manusia dan pemerintah asing menuduh Iran dan IRGC melakukan tindakan keras yang menewaskan ribuan demonstran.
Respons tersebut mendorong Uni Eropa untuk memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris, dan para anggota Parlemen Iran membalas pada hari Minggu dengan memberikan sebutan yang sama kepada tentara Uni Eropa.
Para anggota Parlemen mengenakan seragam hijau IRGC sebagai bentuk solidaritas pada sidang legislatif, di mana mereka meneriakkan “Matilah Amerika", “Matilah Israel", dan “Malulah kalian, Eropa", seperti yang ditunjukkan oleh rekaman televisi pemerintah.































