loading...
Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terjadi pada perdagangan, Senin (2/2/2026) hingga sesi siang, menjadi sinyal keras bahwa kepercayaan belum pulih. Foto/Dok
JAKARTA - Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) yang kembali terjadi pada perdagangan, Senin (2/2/2026) hingga sesi siang, menjadi sinyal keras bahwa kepercayaan belum pulih. Terpantau IHSG pada awal pekan ambles lebih dari 5% ke level sekitar 7.884.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengakui, bahwa pemerintah bergerak setelah petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mundur serentak menyusul kejatuhan IHSG mencapai 8% selama dua hari beruntun. Koordinasi lintas lembaga dilakukan dan pernyataan penenang disampaikan dengan harapan mampu meredam gejolak pasar modal .
"Wacana reformasi pasar modal digulirkan. Bahkan nama Danantara dan dana institusi besar ikut disebut sebagai penopang. Dari sisi niat, negara sudah hadir. Namun pasar tetap jatuh," ungkap Ekonom, Achmad Nur Hidayat di Jakarta.
Baca Juga: OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Begini Detailnya
Menurutnya pelemahan IHSG yang kembali terulang hari ini memberi arti bahwa ada jarak antara apa yang dikatakan negara dan apa yang diyakini pelaku pasar. Namun Achmad Nur Hidayat memberikan apresiasi terhadap respons pemerintah di tengah kejatuhan bursa saham.
"Kita harus jujur mengakui, langkah pemerintah pada Sabtu dan Minggu patut diapresiasi. Dalam banyak kasus, justru kepanikan muncul karena negara lambat atau saling lempar tanggung jawab," bebernya.
Diterangkan olehnya bahwa negara hadir, berbicara, dan mencoba memimpin narasi. Pesan yang disampaikan jelas, bahwa undamental ekonomi Indonesia masih kuat. Gejolak IHSG dipandang sementara, dan eformasi pasar modal akan dipercepat.































