Tradisi Buang Sial, Adakah Dasarnya? Ini Penjelasan Dalil Al-Qur'an dan Hadis

2 hours ago 3

loading...

Di sejumlah daerah masih dikenal tradisi buang sial sebagai ikhtiar untuk menghilangkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan, salah satu caranya yakni dengan mandi di laut. Foto ilustrasi/ist

Di sejumlah daerah masih dikenal tradisi buang sial sebagai ikhtiar untuk menghilangkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan. Lantas, benarkah ada konsep buang sial dalam Islam? Apakah seseorang bisa menjadi pembawa sial bagi dirinya sendiri maupun orang lain?

Islam sebagai agama yang dibangun di atas pondasi tauhid tidak mengenal keyakinan semacam itu. Kepercayaan bahwa ada benda, hari, angka, atau seseorang yang dapat mendatangkan kesialan termasuk bentuk khurafat (tahayul) yang tidak memiliki landasan syariat.

Dalam pandangan Islam, tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apa yang sering dianggap sebagai kesialan sejatinya merupakan bagian dari takdir, ujian, atau akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa."
(HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk menghadapi berbagai ujian dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, bukan dengan ritual-ritual yang tidak memiliki dasar dalam agama.

Baca juga: Berpikir Sial Ternyata Sangat Berbahaya, Begini Penjelasannya

Tidak Ada Kesialan dalam Islam

Islam mengajarkan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia terjadi atas kehendak Allah dan mengandung hikmah. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh meyakini bahwa dirinya, orang lain, angka tertentu, atau suatu tempat menjadi penyebab datangnya kesialan.

Bahkan, keyakinan merasa diri selalu bernasib buruk atau membawa sial termasuk bentuk at-tathayyur (thiyarah), yaitu meyakini adanya pertanda buruk dari sesuatu. Contohnya adalah menganggap angka 13 membawa sial, merasa kehadirannya selalu menyebabkan musibah, atau mempercayai berbagai mitos yang tidak memiliki dasar syariat.

Para ulama menjelaskan bahwa at-tathayyur termasuk syirik ashghar (syirik kecil) karena dapat merusak kesempurnaan tauhid seorang Muslim.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS An-Nisa: 48).

Ayat ini menjadi peringatan keras agar setiap Muslim menjaga kemurnian tauhid dan tidak menggantungkan keyakinannya kepada hal-hal yang bersifat tahayul.

Dalil tentang At-Tathayyur

Secara bahasa, at-tathayyur berasal dari kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah yang menjadikan arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk sebelum melakukan suatu pekerjaan.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |