loading...
Al-Quran mengabadikan kisah Saba agar manusia tidak hanya mengagumi kejayaan sebuah peradaban, tetapi juga belajar dari kehancurannya. Foto ilustrasi/ist
Negeri Saba merupakan salah satu peradaban yang dikisahkan dalam Al-Qur'an. Negeri yang berada di kawasan Yaman tersebut digambarkan pernah menikmati kemakmuran luar biasa, dengan sumber daya alam melimpah dan sistem pengelolaan air yang menjadi penopang kehidupan masyarakatnya.
Namun, kemakmuran tersebut pada akhirnya berbalik menjadi kehancuran. Al-Qur'an menjelaskan bahwa penduduk Saba berpaling dari nikmat Allah SWT dan tidak lagi bersyukur. Mereka kemudian ditimpa banjir besar yang menghancurkan kehidupan dan mengubah negeri yang sebelumnya subur menjadi kawasan yang tandus.
Kisah tersebut antara lain diabadikan dalam Surat Saba ayat 15-17.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'" (QS Saba: 15).
Baca juga: Mengapa Sebuah Negeri Bisa Hancur? Al Quran Ungkap 6 Penyebabnya
Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah SWT menganugerahkan berbagai kenikmatan kepada penduduk Saba. Mereka tinggal di sebuah negeri yang subur dengan hasil pertanian melimpah serta kehidupan yang sejahtera.
Dua kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri menjadi simbol kemakmuran negeri tersebut. Mereka diperintahkan untuk menikmati rezeki Allah sekaligus mensyukurinya.
Dengan kondisi demikian, Negeri Saba semestinya menjadi contoh peradaban yang mampu menjaga kesejahteraan dan memanfaatkan nikmat Allah dengan baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Negeri Makmur Menjadi Negeri yang Hancur
Allah SWT melanjutkan kisah tersebut dalam Surat Saba ayat 16:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl, dan sedikit pohon sidr."
Kata "fa a'radhu" dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa mereka berpaling. Setelah sebelumnya memperoleh berbagai kenikmatan, mereka justru tidak menjalankan kewajiban untuk bersyukur kepada Allah SWT
Akibatnya, Allah mendatangkan Sailul 'Arim, yakni banjir besar yang menyebabkan perubahan drastis terhadap kehidupan Negeri Saba. Kebun-kebun yang sebelumnya subur dan menghasilkan berbagai buah berubah menjadi tanaman dengan hasil yang jauh lebih buruk.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah negeri yang sebelumnya berada dalam kemakmuran dapat mengalami kemunduran ketika manusia tidak mampu menjaga nikmat dan amanah yang diberikan Allah SWT.
Bendungan Menjadi Penopang Kemakmuran
Salah satu faktor penting yang menopang kehidupan masyarakat Saba adalah sistem pengelolaan air. Bendungan menjadi bagian penting dalam mengatur aliran air dan mendukung pertanian. Dengan pengelolaan tersebut, masyarakat dapat menikmati hasil bumi yang melimpah. Namun, ketika bendungan tersebut rusak dan banjir besar terjadi, sistem kehidupan yang selama ini menopang kemakmuran mereka ikut terganggu.
Al-Qur'an menggambarkan perubahan tersebut secara jelas. Negeri yang sebelumnya memiliki kebun-kebun subur akhirnya kehilangan sebagian besar kemakmurannya.








































