loading...
NPU bukan sekadar chip, ini perbedaan antara laptop yang berpikir dan yang sekadar berputar. Foto: HP Indonesia
JAKARTA - Gartner sudah menghitungnya. Tahun 2026 ini, 55 persen dari seluruh laptop yang dijual di dunia sudah ber-AI. Setara 143 juta unit. Bukan tren pinggiran. Bukan sekadar label marketing.
Di 2024, angka itu baru 17 persen. Di 2025, naik jadi 31 persen. Kini hampir melampaui separuh pasar global.
Dan Intel sudah menyebut angka yang lebih jauh: 80 persen laptop di dunia akan ber-AI pada 2028.
Indonesia tidak bisa berpura-pura ini bukan soal kita. HP Indonesia menjawab momentum itu pada 1 September 2026.
Mereka memperkenalkan kembali jajaran HP OmniBook: portofolio AI PC konsumen yang ditenagai Intel Core Ultra Series 3. Lima lini. Lima segmen pasar. Harga mulai Rp10.899.000.
Tapi sebelum bicara produknya, penting untuk memahami dulu: kenapa laptop AI itu matter?
Tiga huruf yang mengubah segalanya: NPU.
Neural Processing Unit. Chip khusus yang memproses tugas-tugas kecerdasan buatan langsung di perangkat, tanpa harus kirim data ke server cloud. Tanpa harus bergantung koneksi internet.
Di Indonesia, ini penting sekali. Koneksi internet di luar Jawa tidak selalu stabil. Kalau pemrosesan AI harus lewat cloud setiap saat, produktivitas langsung bergantung pada kecepatan sinyal.
Dengan NPU, transkripsi suara otomatis berjalan real-time. Noise di video call dihapus tanpa jeda. Auto framing saat presentasi aktif tanpa memakan daya baterai besar. Semua diproses lokal. Cepat. Mandiri.
Itulah bedanya laptop AI dengan laptop biasa yang hanya memasang label 'AI-ready'.
PwC Indonesia punya angkanya. Survei mereka terhadap 812 responden dari Indonesia, bagian dari 49.843 pekerja di 48 negara, menunjukkan sesuatu yang menarik.
Sembilan puluh enam persen pengguna AI harian di Indonesia mengaku produktivitas mereka meningkat. Angka itu melampaui rata-rata global yang 92 persen.
Lebih jauh: 82 persen merasa lebih aman di posisi kerja. Dan 72 persen melaporkan kenaikan penghasilan.
Itu data pengguna yang aktif dan konsisten memakai AI. Artinya: perangkat yang mampu menjalankan AI dengan baik bukan lagi kemewahan.
HP Work Relationship Index 2025 mempertegas konteksnya di Indonesia.
Tujuh puluh persen Gen Z dan 68 persen Milenial di negeri ini punya side hustle di samping pekerjaan utama. Bayangkan seorang desainer grafis di Surabaya: pagi hari rapat Zoom dengan klien korporat, siang edit konten media sosial untuk UMKM, malam proses foto produk untuk toko online-nya sendiri.
































