Tahun Baru 2026: Pertunjukkan Drone Gantikan Kembang Api di Chongqing hingga Bundaran HI

3 hours ago 3

loading...

Tren perayaan tahun baru 2026 bergeser dari kembang api konvensional menuju pertunjukan cahaya digital. Foto: ist

JAKARTA - Langit malam pergantian tahun 2026 tak lagi sekadar milik ledakan mesiu yang bising dan berpolusi. Sebagian justru direbut oleh tarian ribuan robot terbang yang terkoordinasi dalam harmoni digital.

Ketika dunia menatap ke atas menyambut tahun baru, yang terlihat bukan lagi sekadar percikan api, melainkan kanvas raksasa tempat teknologi dan seni berpadu: menandai pergeseran peradaban dari era piroteknik konvensional menuju dominasi drone show atau pertunjukkan drone.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Dari Liuyang, China, yang memecahkan rekor dunia dengan belasan ribu drone, hingga Bundaran HI Jakarta yang memilih "mematikan" kembang api demi solidaritas, tahun 2026 menjadi titik balik di mana langit malam berubah fungsi menjadi layar pesan visual yang canggih, mahal, namun memukau.

Hegemoni China: Mengendalikan 16.000 Robot dengan Satu Komputer

 Pertunjukkan Drone Gantikan Kembang Api di Chongqing hingga Bundaran HI

China, yang selama ini dikenal sebagai "kandang" kembang api dunia, justru menjadi pelopor yang membunuh tradisi lamanya sendiri. Di Liuyang—kota yang secara historis terkenal dengan industri kembang apinya—perusahaan Gaoju Innovation dari Shenzhen berhasil menerbangkan 15.947 unit drone secara bersamaan, memecahkan dua Guinness World Records sekaligus pada September 2025 silam.

Skala ini sulit dinalar oleh akal sehat jika dibandingkan dengan pertunjukan serupa di belahan dunia lain. Sebagai komparasi pasar, pertunjukan drone Disney yang terkenal "hanya" menggunakan sekitar 800 unit, dan pertunjukan di Vatikan hanya melibatkan 3.000 unit. China melampaui angka tersebut berkali-kali lipat.

Lebih mencengangkan lagi, dalam pertunjukan bertajuk "A Firework Belonging to Me" pada 21 September lalu yang menjadi preseden tren ini, sebanyak 7.496 drone dari armada tersebut membawa kembang api sungguhan di tubuhnya.

Hasilnya adalah hibrida visual yang mengerikan sekaligus indah: balet drone yang presisi membentuk pagoda, bunga, dan naga 3D, disusul ledakan kembang api yang terkoordinasi dari udara.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |