loading...
(Ki-Ka) moderator Johanes Herlijanto; Lidya Christin Sinaga, peneliti Pusat Riset Politik BRIN; Daniel Johan, Anggota DPR RI; dan Isyak Meirobie, dosen Podomoro University, Jakarta dalam diskusi publik di Jakarta, belum lama ini. Foto: Ist
JAKARTA - Dalam kurun tiga dasawarsa pemerintahan Orde Baru (Orba), orang Tionghoa Indonesia dikenal sebagai kelompok yang kuat secara ekonomi, namun lemah dalam politik. Pandangan ini ramai dibicarakan oleh para pemerhati Tionghoa yang berafiliasi dengan berbagai institusi riset dan pendidikan di negara-negara maju.
Pandangan ini tentu dapat dipahami mengingat kiprah bisnis orang-orang Tionghoa yang sangat menonjok di era Orba. Namun, seiring dengan datangnya atmosfer demokrasi yang kuat di era reformasi, Tionghoa tak lagi terkungkung dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga kembali berpartisipasi dalam ranah politik.
Baca juga: Disebut Legenda Politik Tionghoa, Ahok Kutip Pepatah Tiongkok
Melalui aktivitas politik, orang-orang Tionghoa di Indonesia dinilai semakin memperlihatkan sikap yang inklusif. Sikap yang menonjolkan keterbukaan untuk bergandeng tangan dengan komponen bangsa dari beragam kelompok etnik lain itu terlihat jelas antara lain dalam partisipasi politik mereka yang memperlihatkan orientasi mereka pada Indonesia sebagai tanah air mereka.
Hal ini pada gilirannya berpotensi sangat tinggi untuk mengikis anggapan yang salah dan usang, yaitu anggapan yang masih mempertanyakan loyalitas mereka sebagai bangsa Indonesia.
Pertanyaan tentang loyalitas Tionghoa dianggap tak memiliki pijakan sama sekali, karena bertentangan dengan realitas di lapangan. Faktanya, kiprah para politisi Tionghoa memperlihatkan bagaimana orang Tionghoa bukan hanya berorientasi pada Indonesia semata, tetapi menekankan keberpihakan pada bangsa dan masyarakat Indonesia baik pada tataran nasional maupun daerah.
Kesimpulan di atas bergema dalam diskusi publik berjudul “Bagi Indonesia: Kontribusi Tionghoa dalam Ranah Politik,” yang diselenggarakan bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Perhimpunan INTI), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta, belum lama ini.
Diskusi tersebut menampilkan beberapa tokoh terkemuka sebagai pembicara antara lain Dr Isyak Meirobie, dosen Podomoro University, Jakarta, yang juga bertugas sebagai Asisten Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi; Dr Daniel Johan, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); dan Lidya Christin Sinaga, peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).








































