loading...
Dalam perjalanan Isra Mikraj dan bertemu para nabi/rasul terdahulu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjadi Imam salat bagi mereka. Foto ilustrasi/Sindonews
Dalam perjalanan Isra Mikraj dan bertemu para nabi/rasul terdahulu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjadi Imam salat bagi mereka.
Kisah tersebut diceritakan Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Salim Bin Jindan (Pengasuh Yayasan Al-Hawthah Al-Jindaniyah) sebagai berikut:
Dalam perjalanan ke Sidratul Muntaha , Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam beberapa kali berjumpa dengan sekelompok hamba-hamba Allah, mereka berkata: "Assalamu'alaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi terakhir, Assalamu'alaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi yang setelahnya adalah hari kebangkitan." Maka Jibril berkata kepada Nabi: "Jawablah salam mereka." Maka Nabi menjawab salam mereka dan bertanya: "Siapa mereka wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa 'alaihimussalam."
Bertemu Nabi Musa
Rasulullah SAW melewati Nabi Musa 'alaihissalam yang sedang salat di kuburnya yang terletak di Bukit Pasir Merah (Ggunung Nebo). Postur tubuhnya, tinggi badannya, lurus rambutnya, kecoklatan kulitnya, seperti laki-laki dari Suku Syanuah. Dalam salatnya Nabi Musa berkata dengan suara sangat lantang, "Engkau ya Allah memuliakannya (Nabi Muhammad) dan engkau ya Allah mengutamakannya (Nabi Muhammad)."
Baca juga: Inilah Para Nabi dan Rasul yang Bertemu Rasulullah dalam Perjalanan Mikraj
Maka Nabi Muhammad SAW mengucapkan salam dan Nabi Musa menjawab salamnya dan berkata: "Siapa ini yang bersama Engkau wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Ini Ahmad." Maka Musa berkata: "Selamat datang Nabi dari bangsa Arab yang memberikan nasihat kepada umatnya, dan kemudian Nabi Musa mendoakan Nabi Muhammad dengan keberkahan." Nabi Musa berkata kepada Nabi Muhammad: "Mintalah kepada Allah kemudahan untuk umatmu."
Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di perjalanan, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Jibril. "Siapa hamba mulia tadi wahai Jibril?" Jibril menjawab, itu saudaramu Nabi Musa bin Imran. Nabi bertanya: "Terhadap siapa dia berani mengangkat suaranya dengan lantang dan tegas?" Jibril menjawab: "Kepada Tuhannya." Jibril berkata lagi: "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memaklumi ketegasannya."
Bertemu Nabi Ibrahim
Kemudian di perjalanan, Nabi melewati pohon yang sangat besar sekali. Di bawah pohon itu ada seorang lelaki yang sangat berwibawa bersama anak keluarganya dan Nabi melihat lampu dan cahaya-cahaya yang terang. Rasululllah bertanya: "Siapa itu wahai Jibril?"
Jibril menjawab: "Beliau adalah ayahmu Nabi Ibrahim 'alaihissalam." Kemudian keduanya saling bertukar salam. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril: "Siapa ini wahai Jibril?" "Ini adalah putramu Ahmad," jawab Jibril.
Maka Nabi Ibrahim berkata: "Selamat datang wahai Nabi dari bangsa Arab yang tidak bisa membaca dan menulis, yang menyampaikan risalah Tuhannya, dan memberi nasihat pada umatnya. Wahai anakku sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu malam ini. Dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang terakhir dan paling lemah jikalau engkau bisa menjadikan seluruh permohonanmu atau sebagian besar permohonanmu kepada Tuhanmu untuk umatmu maka lakukanlah." Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan Nabi Muhammad SAW dengan keberkahan.
Singgah di Baitul Maqdis
Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai di lembah yang berada di Kota Baitul Maqdis. Di saat itu terlihatlah neraka Jahannam yang terbentang seperti permadani. Kemudian Nabi melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai ke Baitul Maqdis dan memasukinya dari pintu kanan.
Kemudian Nabi turun dari Buroq dan dikaitkan di pintu masjid pada kaitan yang sama ketika para Nabi sebelumnya mengaitkan tunggangan mereka. Dalam riwayat lain, bahwa Jibril mendekati batu dan meletakkan jarinya kepada batu itu sampai tembus berlubang dan kemudian Buroq dikaitkan di lubang tersebut.
Jadi Imam Salat Bagi Para Rasul
Rasulullah SAW memasuki masjid dari pintu yang matahari dan bulan condong ke arahnya. Kemudian Nabi dan Jibril salat dua rakaat dan tidak mengunggu lama berkumpullah manusia yang sangat banyak. Di antara mereka ada yang sedang salat berdiri, ada yang rukuk, dan sujud.
Kemudian Azan dan iqomah dikumandangkan. Mereka berdiri berbaris menunggu siapa yang akan mengimami mereka, lalu Jibril menggandeng tangan Rasulullah SAW dan menuntunnya ke bagian depan. Nabi mendirikan salat 2 rakaat sebagai imam bersama mereka.





































