Terobosan Baterai Solid-State Bergantung pada Katoda Bukan Elektrolit

7 hours ago 5

loading...

Terobosan Baterai Solid-State. FOTO/CNC

BEIJING - Konferensi puncak inovasi baterai solid-state China ketiga di Beijing, awal bulan ini, menyoroti tantangan di seluruh industri baterai.

Profesor Xia Dingguo dari Universitas Peking mencatat bahwa kepadatan energi, yang terutama ditentukan oleh katoda, tetap penting, dan bahwa inovasi katoda, daripada terobosan elektrolit, adalah kunci untuk memindahkanbaterai solid-statedari laboratorium ke produksi komersial, seperti yang dilaporkanAutohome.

Kebangkitan kembali minat pada baterai solid-state terkait dengan dua faktor utama: peningkatan substansial dalam kemampuan penelitian secara keseluruhan sejak tahun 1990-an, dan meningkatnya permintaan akan kepadatan energi yang lebih tinggi, keamanan, dan optimasi material dalam aplikasi kendaraan listrik (EV).

Baterai solid-state diharapkan dapat mencapai kepadatan energi yang tinggi, keamanan, umur pakai yang panjang, dan biaya rendah, tetapi tanpa terobosan dalam teknologi katoda, signifikansi industrinya terbatas.

Tantangan saat ini berpusat pada stabilitas antarmuka dan kompatibilitas material. Eksperimen dengan katoda nikel tinggi menunjukkan peningkatan stabilitas termal tetapi tetap memiliki risiko keselamatan dalam kondisi arus atau tegangan tinggi karena polarisasi lokal, pembentukan lapisan impedansi tinggi, dan degradasi kinerja pada akhirnya.

Doping fluorin dapat menstabilkan siklus untuk sementara, tetapi degradasi meningkat setelah sekitar 125 siklus. Material katoda kristalin bersifat anisotropik, dan bahkan perubahan volume kecil dapat memusatkan tegangan pada antarmuka, membatasi umur siklus.

Kompatibilitas material semakin membatasi adopsi komersial. Elektrolit padat yang berbeda, termasuk klorida, sulfida, dan oksida, menunjukkan modulus dan perilaku antarmuka yang bervariasi.

Oksida terlalu kaku; sulfida dan klorida seringkali memerlukan tekanan terapan, yang mempersulit proses manufaktur. Mengatasi tantangan ini akan membutuhkan elektrolit dengan modulus rendah dan ramah antarmuka, atau polimer yang dioptimalkan yang mampu menghasilkan rentang tegangan yang luas dan konduktivitas tinggi.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |