Ribuan WNI Mukimin Jadi Petugas Haji di Makkah, Konjen RI di Jeddah: Kita Butuh Super Tim!

9 hours ago 3

loading...

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary. Foto: MCH 2026

MAKKAH - Pemerintah Indonesia mengerahkan kekuatan penuh dengan merekrut 1.100 Warga Negara Indonesia (WNI) dari kawasan Timur Tengah dan Arab Saudi untuk mengawal operasional haji 2026 M. Ribuan diaspora yang berstatus mahasiswa dan mukimin ini resmi diterjunkan sebagai Tenaga Pendukung (Tepung) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

Kesiapan pasukan pelayan tamu Allah ini dimatangkan melalui Bimbingan Teknis yang digelar di Al-Wehda Tower Hotel, Makkah, pada Senin (27/4/2026). Dari total kuota raksasa tersebut, sebanyak 677 personel langsung disiagakan di garis pertahanan Makkah, sementara 423 lainnya memperkuat sektor Madinah.

Penguasaan bahasa Arab yang mumpuni menjadi senjata utama para mahasiswa asal Mesir, Libya, hingga Suriah ini saat berhadapan dengan otoritas lokal. Mereka difungsikan sebagai jembatan komunikasi penembus sekat birokrasi di berbagai titik krusial seperti lobi hotel, dapur katering, hingga layanan transportasi.

 Kita Butuh Super Tim!

Baca juga: Askar Tak Berseragam Awasi Masjid Nabawi, Jemaah Haji Diminta Ekstra Disiplin

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary, menegaskan bahwa kehadiran tenaga pendukung ini sangat vital untuk merespons dinamika lapangan yang bergerak cepat. Para petugas ini secara khusus diinstruksikan berpatroli di wilayah Markaziah guna menyisir dan menyelamatkan jemaah haji yang tersesat atau kebingungan.

"Saya tidak percaya dengan istilah superman, yang ada adalah super tim. Kekompakan menjadi kunci dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah," tegas Yusron memompa militansi ribuan petugas.

Tantangan operasional tahun ini menuntut setiap personel memiliki ketahanan fisik ekstra dan kelincahan dalam menyelesaikan masalah lintas sektoral. Kinerja kolektif tanpa ego pribadi menjadi syarat mutlak agar ratusan ribu jemaah terlayani dengan standar maksimal.

Sementara itu, Wakil Ketua II PPIH Arab Saudi, Budi Agung Nugroho, mengingatkan bahwa pengabdian mulia ini tetap terikat pada kepatuhan hukum imigrasi yang sangat ketat. Seluruh tenaga pendukung wajib membekali diri dengan dokumen resmi yang disyaratkan oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menghindari razia aparat.

"Hari ini kita datang ke Makkah wajib memiliki tasreh, wajib memiliki visa haji, wajib memiliki nusuk. Maka patuhi itu, itu adalah bagian dari kita menaati ulil amri," tandas Budi Agung Nugroho memberikan peringatan.

Kepatuhan total terhadap regulasi keamanan ini menjadi fondasi utama agar para petugas tidak justru beralih menjadi beban masalah di Tanah Suci. Melalui sinergi diaspora dan kedisiplinan tingkat tinggi, perlindungan bagi jemaah haji Indonesia dipastikan berlapis dan tanpa celah.

(rca)

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |