loading...
Arwani Thomafi, Pembina Pesantren Al-Hamidiyah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Foto/Dok.Pribadi
Arwani Thomafi
Pembina Pesantren Al-Hamidiyah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah
KEHADIRAN Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan besar di Munajat Bangsa dan Pengukuhan Pengurus MUI Periode 2025-2030 Sabtu (7/2/2026) serta Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) Minggu (8/2/2026) memberi pesan penting dalam relasi negara dengan kalangan ulama serta umat Islam.
Kehadiran Presiden Prabowo memiliki makna penting yang tak sekadar bagian dari agenda kenegaraan yang dihadiri presiden dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat. Lebih dari itu, sejumlah pesan penting yang disampaikan tampak ingin memberi pesan kuat tentang komitmen negara dalam merajut hubungan dengan kelompok agama (Islam) dan pemangku kepentingan lainnya.
Apalagi dalam Asta Cita, isu agama menjadi satu bagian penting dari delapan isu yang diusung Presiden Prabowo. Dalam program kerja Asta Cita, agama menjadi salah satu elemen penting dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Disebutkan dalam Asta Cita “memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan alam dan budaya, peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat adil dan makmur”.
Pernyataan Presiden yang berisi rekognisi, komitmen, sekaligus harapan terhadap MUI maupun NU tampak memberi pesan kuat tentang signifikansi entitas keagamaan dalam proses pembangunan. Hal ini sejalan dengan komitmen konstitusional yang dirintis oleh para pendiri bangsa (the founding fathers) yang dimulai sebelum kemerdekaan, saat proses pembentukan konstitusi hingga setiap fase perjalanan republik ini.
Keberadaan kelompok agama dalam proses pembangunan menjadi bagian tak terpisahkan dengan pelbagai elemen lainnya. Pasang surut hubungan antara negara dan kelompok agama pada momen kritis masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa kelompok agama di Indonesia memiliki peran penting dalam berbangsa dan bernegara. Presiden Prabowo tampak ingin menguatkan bangunan relasi antara negara dan agama tersebut.
Kolaborasi Umara dan Ulama
Pengakuan Presiden terhadap kontribusi para ulama saat memperjuangkan kemerdekaan RI menunjukkan kesadaran yang kuat dari negara atas keberadaan ulama dalam turut serta meraih kemerdekaan.
































