loading...
Malaysia, Turki dan UEA bersama 51 negara lainnya dilaporkan pasok senjata ke Israel. Foto/X
GAZA - Investigasi Al Jazeera selama berbulan-bulan menemukan bahwa barang-barang terkait militer yang berasal dari setidaknya 51 negara dan wilayah otonom terus memasuki Israel setelah peringatan Mahkamah Internasional (ICJ) tentang kemungkinan risiko genosida di Gaza.
Berdasarkan analisis data impor Otoritas Pajak Israel (ITA) antara tahun 2022 dan 2025, dan didukung oleh catatan bea cukai dan permintaan akses informasi publik, investigasi tersebut melacak rantai pasokan militer yang terkait dengan negara-negara di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Semua negara yang disebutkan adalah penandatangan Konvensi Genosida.
Dalam beberapa kasus, barang-barang terkait militer berasal dari negara-negara yang secara resmi memberlakukan embargo senjata terhadap Israel atau telah menangguhkan sebagian pasokan senjata ke negara tersebut.
Faktanya, menurut data ITA, impor senjata meningkat setelah putusan ICJ, dengan sebagian besar berada di bawah kategori amunisi.
Malaysia, Turki dan UEA Bersama 51 Negara Lainnya Dilaporkan Pasok Senjata ke Israel
1. Banyak Negara Islam Pasok Senjata ke Israel
Lima negara asal terbesar untuk barang-barang terkait militer yang masuk ke Israel - Amerika Serikat, India, Rumania, Taiwan, dan Republik Ceko - semuanya mencatat peningkatan pengiriman selama perang. Bahkan, Al Jazeera melaporkan beberapa negara Muslim juga ikut memasok senjata ke Israel, seperti Uni Emirat Arab, Malaysia, Uzbekistan, Azerbaijan, Turki. Selain itu, negara tetangga Indonesia seperti Filipina dan Singapura juga memasok barang keperluan militer ke Israel.
Meskipun banyak negara yang termasuk dalam investigasi ini tidak membagikan statistik tentang ekspor senjata ke Israel, data ITA menunjukkan bahwa 2.603 pengiriman barang-barang terkait militer - termasuk impor yang diberi label sebagai barang terkait amunisi, bahan peledak, suku cadang senjata, dan komponen kendaraan lapis baja - masuk ke Israel antara Oktober 2023 dan Oktober 2025.
Secara total, impor tersebut bernilai 3,22 miliar shekel (USD885,6 juta), dengan 91 persen dari nilai tersebut tercatat setelah putusan ICJ, menurut data ITA.
Sebagai perbandingan, dalam 20 bulan sebelum Oktober 2023, impor terkait militer ke Israel berjumlah 1,41 miliar shekel (USD388,1 juta). Data tersebut menunjukkan Israel meningkatkan ketergantungannya pada pasokan senjata asing untuk membantu mempertahankan serangan militernya di Gaza.
Bahkan setelah gencatan senjata terbaru berlaku pada 10 Oktober 2025, aliran senjata tidak berhenti. Dalam dua bulan terakhir tahun 2025, Israel menerima tambahan 324,9 juta shekel (USD89,4 juta) dalam impor terkait militer, menurut data ITA.
2. Memiliki Kode Tertentu
ITA memiliki basis data impor yang dapat diakses publik yang diorganisir berdasarkan kode bea cukai delapan digit.

































