Kepemimpinan Tanpa Franchise

1 day ago 7

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Dalam tulisan sebelumnya tentang pemikiran KH. Sofwan Manaf, kami menyinggung filosofi sederhana: "Banyak yang tahu Darunnajah, tapi tidak tahu siapa pimpinannya." Bukan sekedar retorika ketawaduan. Tapi ini adalah carapandang yang menempatkan lembaga di atas figur.

Filosofi itu ternyata teripspirasi oleh Trimurti Gontor. KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi membangun sistem pendidikan yang kini melahirkan ratusan pesantren modern. Tanpa mendeklarasikan diri sebagai pendiri. Tanpa memungut royalti.

Sebagai bagian dari tradisi Gontor, kami ingin merefleksikan model kepemimpinan ini. Bukan untuk meromantisasi, juga bukan untuk mengkritisi. Melainkan untuk memahami relevansinya bagi pendidikan Islam hari ini.

Keikhlasan yang Terbukti

Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi pernah bercerita di Forum Perguruan Tinggi Alumni Gontor. Pada 1970-an, hanya ada empat atau lima pondok alumni yang dikenal. Darul Arqam Jember, Pabelan Magelang, Darunnajah Jakarta, Daar el Qolam Banten. Kini jumlahnya berlipat ratusan kali.

Yang menarik bukan sekadar angkanya. Melainkan kualitas yang dihasilkan.

Deretan alumni yang lahir dari model ini. KH. Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU dan tokoh dialog antaragama tingkat dunia. Prof. Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah dan menjadi presiden World Conference on Religion and Peace. KH. Dr. KH. Idham Chalid salah satu pahlawan Nasional.

Ini bukan kebetulan. Ini bukti bahwa sibghah nafsiyah atau internalisasi nilai keikhlasan yang ditanamkan Trimurti benar-benar bekerja.

KH. Hasyim Muzadi sendiri pernah berkata bahwa semua pidatonya di forum internasional adalah "modal yang diambil dari Gontor." Sebuah pengakuan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan puluhan tahun lalu masih hidup dan relevan di panggung global.

Konteks yang Perlu Dipahami

Untuk memahami model Trimurti, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah yang tepat.

Gontor didirikan pada 1926. Indonesia belum merdeka. Sistem pendidikan nasional belum ada. Akreditasi, standarisasi kurikulum, atau quality assurance adalah konsep yang belum dikenal. Yang ada hanyalah visi tiga bersaudara tentang pendidikan Islam yang membebaskan.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |