loading...
Kapal tanker minyak Rusia mencantumkan Singapura sebagai tujuan resmi pengiriman untuk menyamarkan identitas pembeli di tengah sanksi AS. FOTO/bairdmaritim.com
MOSKOW - Kapal tanker minyak Rusia mulai gencar mencantumkan Singapura sebagai tujuan resmi pengiriman untuk menyamarkan identitas pembeli di tengah memburuknya prospek ekspor menyusul mundurnya India dari pasar minyak Rusia. Data pelayaran LSEG dan keterangan para pedagang menunjukkan pengalihan rute ini menjadi strategi baru Moskow menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat (AS).
"Kenaikan kapal tanker yang mencantumkan tujuan seperti Singapura, Suez, atau Port Said menandakan kesulitan penjualan yang semakin meningkat dan berkurangnya jumlah pembeli andal," kata seorang pedagang minyak berbasis di Moskow kepada Reuters.
Baca Juga: Rusia Ancam Ambil Tindakan Militer Balasan Jika Greenland Dimiliterisasi NATO
Berdasarkan data pelayaran, tanker yang membawa sekitar 1,4 juta metrik ton minyak mentah Rusia berangkat menuju Singapura pada Januari dengan volume bulanan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Singapura sendiri tidak mengimpor minyak Rusia karena risiko sanksi. Perairan di sekitar negara itu justru kerap digunakan untuk transfer kapal ke kapal atau memindahkan muatan ke unit penyimpanan terapung di dekat Malaysia.
Pengalihan rute ini dipicu oleh sikap India yang mulai membatasi impor minyak Rusia setelah kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Berdasarkan kesepakatan antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi, AS menghapus tarif tambahan 25% atas barang-barang India sebagai imbalan atas komitmen New Delhi menghentikan pembelian minyak mentah Rusia.
Para penyuling India, kecuali Nayara Energy yang didukung Rosneft, telah menghentikan pembelian kargo spot sejak Trump pertama kali menyebutkan kesepakatan tersebut. Akibatnya, impor minyak Rusia ke India diperkirakan akan turun separuh dari level yang sudah melemah.
Pada Desember lalu, asupan minyak Rusia India bahkan sudah turun ke level terendah dalam dua tahun. Nayara Energy diperkirakan hanya akan melanjutkan impor secara terbatas karena statusnya yang tersanksi dan minimnya pemasok alternatif.






























