loading...
Iran jadi negara pertama di dunia yang menembak jet tempur siluman F-35 AS dengan rudal murah yang dikenal sebagai Product 358. Foto/Air Force Senior Airman Alexander Cook/Wikimedia Commons
TEHERAN - Pada 19 Maret, Iran melakukan hal yang tak terduga, menjadi negara pertama yang menembak jet tempur siluman generasi kelima Amerika Serikat (AS); F-35 Lightning II.
Meskipun pesawat F-35 Angkatan Udara AS itu berhasil melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer AS di Timur Tengah, pesawat tersebut telah mengalami kerusakan reputasi yang tak dapat diperbaiki.
Baca Juga: Baru 2 Pekan Iran Tembak Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kini Jet Serupa Amerika Jatuh
Iran menunjukkan kepada dunia bahwa pesawat tempur generasi kelima yang paling banyak diproduksi, lebih dari 1.300 unit F-35 telah dikirim oleh Lockheed Martin, dan dipesan oleh 19 negara, mungkin tak terlihat, tetapi tentu saja tidak tak terkalahkan.
Yang perlu diperhatikan, Iran mencapai prestasi ini ketika sebagian besar aset pertahanan udaranya, menurut Presiden Donald Trump, telah hancur.
Faktanya, salah satu alasan F-35 terbang jauh ke dalam wilayah Iran, alih-alih meluncurkan rudal jarak jauh, adalah keyakinan bahwa sebagian besar pertahanan udara musuh telah dihantam.
“Kami terbang ke mana pun kami mau. Tidak ada yang menembak kami,” kata Trump pada 17 Maret. Menteri Perang Pete Hegseth lebih lanjut mengatakan pertahanan udara Iran telah “diratakan”.
Product 358, Rudal Murah Iran
Hal ini, bersama dengan kemampuan siluman F-35 yang superior, membuat jet tersebut tak terlihat dan tak terkalahkan, atau begitulah yang dipikirkan pilot. Namun, pilot F-35 AS tidak memperhitungkan satu ancaman yang mengintai, yaitu "Product 358" Iran.
“Product 358”, juga dikenal sebagai rudal 358 atau SA-67, adalah rudal permukaan-ke-udara (SAM) yang dikembangkan Iran, yang dirancang terutama sebagai penangkal berbiaya rendah terhadap kendaraan udara tak berawak (UAV/drone), helikopter, dan ancaman udara lainnya yang terbang lambat atau rendah.
Senjata ini sering digambarkan sebagai senjata hibrida, sebagian rudal dan sebagian lagi amunisi "kamikaze" atau amunisi jelajah. Terkadang, senjata ini juga disebut sebagai sistem "pertahanan udara berbasis drone".
Setelah diluncurkan, senjata ini dapat berpatroli atau berputar-putar di wilayah udara yang ditentukan sambil secara otonom mencari target, kemudian menukik untuk mencegat.
Rudal ini awalnya diluncurkan oleh pendorong roket berbahan bakar padat, yang terpisah setelah terbakar habis. Rudal, kemudian, dalam fase jelajahnya, ditenagai oleh mesin turbojet kecil.
Rudal ini dilengkapi dengan pencari inframerah (IR)/elektro-optik untuk pelacakan akhir. Sistem pasif ini berarti rudal tidak memancarkan sinyal radar, sehingga membuatnya "senyap" dan lebih sulit dideteksi oleh target melalui penerima peringatan radar.
Meskipun investigasi Angkatan Udara AS (USAF) terhadap insiden tersebut belum selesai dan Iran belum mengungkapkan senjata apa yang digunakan untuk menargetkan jet F-35, di kalangan analis pertahanan dan keamanan, terdapat konsensus yang berkembang bahwa rudal Iran yang menembak F-35 adalah rudal Product 358 Iran, sebuah perpaduan yang unik dan benar-benar cerdik antara rudal permukaan-ke-udara (SAM) tradisional dan amunisi jelajah.
Dr Can Kasapoğlu, Senior Fellow di Hudson Institute, menggambarkan amunisi jelajah 358 sebagai "penyebab alami" serangan terhadap F-35, menyoroti pencari inframerah pasifnya yang mengunci panas mesin pada jarak dekat tanpa memancarkan sinyal radar, sehingga melewati penerima peringatan radar F-35.


































