Ekonomi Tumbuh Stagnan 5%, Terungkap 1 Kesalahan Fatal yang Bikin RI Tertinggal dari Vietnam

2 hours ago 2

loading...

Ekonom Senior INDEF, Didik J. Rachbini melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai terlalu berpandangan ke dalam (inward-looking). Fotoi/Dok

JAKARTA - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai terlalu berpandangan ke dalam (inward-looking). Ia menegaskan bahwa kelemahan mendasar inilah yang menjadi alasan utama mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia terus-menerus tertahan di kisaran moderat 5%, jauh di bawah potensi maksimalnya.

Menurut Didik, tanpa keberanian untuk menggeser orientasi kebijakan menuju outward-looking, target pertumbuhan tinggi sebesar 7 hingga 8% -seperti yang sukses dicapai Vietnam- hanya akan menjadi sekadar janji kampanye yang mustahil terwujud.

Didik menjelaskan, bahwa pemerintah selama ini terlalu mengandalkan pasar domestik, substitusi impor, serta penguasaan sumber daya alam tanpa menjadikannya sebagai basis industri bernilai tambah tinggi di kancah internasional. Kendati kegiatan ekspor dan penarikan investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) tetap berjalan, sektor luar negeri belum diposisikan sebagai pendorong utama transformasi struktural.

Baca Juga: Cegah Ekonomi Jatuh di Bawah 5%, Ekonom Didik: Belanja Pemerintah Tak Akan Langgeng

"Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang. Ini harus disadari karena faktor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri. Padahal bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor," ujar Didik J. Rachbini dalam analisisnya.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |