loading...
Setelah sekian lama dinilai hanya memberi gertakan verbal, China kini melancarkan serangan balasan kilat yang memicu kepanikan mendalam di markas besar Uni Eropa, Brussel. Foto/Dok
JAKARTA - Perang dagang dan ketegangan geopolitik antara Uni Eropa (UE) dan China resmi memasuki babak baru. Setelah sekian lama dinilai hanya memberi gertakan verbal, Beijing kini melancarkan serangan balasan kilat yang memicu kepanikan mendalam di markas besar Uni Eropa, Brussel.
Hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Brussel memasukkan 14 perusahaan China ke dalam daftar sanksi atas dugaan membantu Rusia dalam perang di Ukraina, Beijing langsung membalas secara mengejutkan. Baca Juga: Redam Perang Dagang dengan AS, China Usul Pangkas Tarif Rp535 triliun
Jika Uni Eropa memberi waktu pemberitahuan berbulan-bulan, China melancarkan serangan balik dengan hanya memberikan peringatan 1 jam sebelum sanksi resminya dijatuhkan.
Brussel Hati-hati, Beijing Tikam Langsung
Langkah Beijing membuat para pejabat Uni Eropa terperanjat. Padahal Brussel sudah bertindak sangat hati-hati dengan sengaja mencoret nama-nama perusahaan besar China dari daftar sanksi mereka demi menghindari aksi balas dendam.
Namun, Beijing justru bertindak sebaliknya. China membidik langsung jantung pertahanan Eropa dengan memasukkan 14 organisasi pertahanan utama UE ke dalam daftar hitam-termasuk Rheinmetall, raksasa produsen senjata terbesar di Eropa asal Jerman, serta sebuah universitas terkemuka di Polandia.
Baca Juga: AS Ancam Tarif 100% Bagi Pembeli Minyak Rusia, China Meradang dan Siapkan Pembalasan
"Selama bertahun-tahun mereka selalu mengancam, lebih banyak menggonggong daripada menggigit. Tapi kali ini, mereka tidak banyak menggonggong, mereka langsung menggigit sangat keras," ungkap seorang pejabat senior Uni Eropa.
Trik Sanksi China: Rantai Pasok Senjata Eropa Terancam Membeku
Sanksi dari Beijing ini tidak sekadar melarang lembaga pertahanan Eropa membeli bahan baku tertentu secara langsung dari China. Tapi juga menerapkan jangkauan ekstrateritorial-sebuah aturan tegas yang memblokir lembaga pertahanan Eropa untuk menerima bahan baku berunsur China, bahkan jika dibeli melalui pihak ketiga atau pemasok di luar negeri.






























