loading...
Otoritas Palestina memperingatkan kurma yang diproduksi di lahan yang disita di Jericho, Tepi Barat, dipasarkan sebagai produk lokal, dan mendesak konsumen memeriksa barcode dengan cermat saat membeli kurma, pada 17 Februari 2026. Foto/Hisham K. K. Abu Sh
TEL AVIV - Sebagian besar kurma yang ditawarkan untuk dijual di Eropa diduga memasuki pasar melalui negara ketiga sambil menyembunyikan asal sebenarnya. Ekspansi pesat perdagangan kurma global dan kompleksitas rantai pasokan telah memicu perdebatan tentang ketertelusuran dan transparansi pelabelan.
Israel, yang saat ini menghadapi kampanye boikot khususnya di dunia Muslim, dilaporkan telah mengadopsi strategi pelabelan untuk mengurangi dampak boikot konsumen di Eropa.
Pasar kurma global, yang bernilai USD32,7 miliar pada tahun 2025, diproyeksikan tumbuh menjadi USD34,5 miliar pada tahun 2026, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 6,14%. Pasar diperkirakan akan mencapai USD55,58 miliar pada tahun 2034.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika mempertahankan posisi dominan, dengan kapasitas panen tahunan melebihi sembilan juta ton. Kawasan ini menyumbang 85,28% dari pasar global pada tahun 2025. Ukuran pasarnya meningkat dari USD27,89 miliar pada tahun 2025 menjadi USD29,43 miliar pada tahun 2026.
Produsen dan konsumen utama di kawasan ini meliputi Tunisia, Iran, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Mesir.
Mesir menduduki peringkat sebagai produsen terkemuka dunia, melebihi 1,7 juta ton per tahun. Arab Saudi menyusul dengan lebih dari 1,5 juta ton, Iran dengan lebih dari 1,3 juta ton, dan Aljazair dengan lebih dari 1,1 juta ton.
Meskipun Israel tertinggal dari Mesir dan Arab Saudi dalam volume produksi keseluruhan, Israel tetap menjadi pemain penting dalam ekspor kurma bernilai tambah tinggi, khususnya varietas Medjool premium.
Namun, perbedaan antara angka produksi dan ekspor telah menimbulkan pertanyaan mengenai ketertelusuran rantai pasokan.
Berbagai laporan industri, investigasi media, dan kelompok pengawas konsumen di Eropa menunjukkan kurma yang diproduksi di pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki mungkin dipasarkan dengan label asal yang disembunyikan untuk menghindari tindakan boikot dan pengawasan peraturan.
Debat Transparansi dalam Rantai Pasokan
Klaim berpusat pada kurma yang diproduksi di pemukiman yang dikirim ke Eropa melalui negara perantara atau saluran logistik tidak langsung daripada melalui ekspor langsung.
Produk yang berasal dari Tepi Barat diduga hanya diberi label sebagai "produk Israel" atau disajikan sebagai produk yang berasal dari negara-negara tetangga ketika memasuki pasar Uni Eropa.
Beberapa eksportir dikatakan mengemas ulang barang di zona perdagangan bebas atau mengirimkannya melalui negara perantara, sehingga menyembunyikan tempat produksinya.
































