Asal Usul Rabiul Awal, Sejarah Penamaan dan Mengapa Disebut Bulan Maulid?

1 hour ago 5

loading...

Bulan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir dinamai demikian karena pada masa itu masyarakat Arab membangun atau menempati tempat tinggal yang berkaitan dengan musim semi maupun musim gugur. Foto ilustrasi/ist

Asal-usul bulan Rabiul Awal dan sejarahnya menarik untuk diketahui umat Islam. Bulan ketiga dalam kalender Hijriah ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam karena dikenal luas sebagai bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Saat ini, umat Islam memasuki Rabiul Awal 1448 Hijriyah. Rabiul Awal (رَبِيْعُ الأَوَّلِ) merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriyah , setelah Muharram dan Safar. Dalam bahasa Arab, Rabiul Awal disebut Rabi' al-Awwal.

Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Rabi' memiliki makna yang cukup kompleks. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut musim sekaligus bulan. Dalam konteks musim, Rabi' dapat merujuk pada musim semi maupun musim gugur.

Sebagian masyarakat Arab menggunakan istilah Rabi' untuk menyebut musim semi, sementara sebagian lainnya menggunakannya untuk musim gugur. Adapun dalam konteks penamaan bulan, Rabi' merujuk pada dua bulan yang datang setelah Safar, yakni Rabiul Awal dan Rabiul Akhir.

Baca juga: Rabiul Awal 1448 H, Momentum Mengenal Kembali Biografi Nabi Muhammad SAW

Kedua bulan tersebut disebut Rabi' karena berkaitan dengan periode musim tertentu yang berlangsung di antara musim semi hingga musim gugur.

Asal Usul Nama Rabiul Awal

Untuk membedakan istilah Rabi' yang berarti musim dengan Rabi' yang digunakan sebagai nama bulan, masyarakat Arab biasanya menambahkan kata syahr yang berarti bulan.

Karena itu, Rabiul Awal dan Rabiul Akhir disebut Syahru Rabi' al-Awwal dan Syahru Rabi' al-Akhir. Penjelasan mengenai hal ini antara lain dikemukakan Jawwad Ali dalam Al-Mufasshal fi Tarikhil Arab Qablal Islam.

Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa Allah SWT menetapkan satu tahun terdiri atas 12 bulan. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surat At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ...

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |