Analis: Alasan Sebenarnya Iran dan AS Tak Dapat Akhiri Perang Adalah Uang!

5 hours ago 3

loading...

Para analis mengungkap alasan sebenarnya Iran dan AS tak dapat mengakhiri perang adalah uang. Foto/en.apa.az

WASHINGTON - Sebelum Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat (AS), dia mengasah sikap kerasnya terhadap Iran, mengeluh tentang "berlimpah uang tunai" yang diterima Iran berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Kini, kemampuannya untuk mengakhiri perang di Timur Tengah sebagian besar bergantung pada seberapa banyak uang yang akan diberikannya kepada Teheran.

Baca Juga: Ekonom AS Jeffrey Sachs: Perang Iran Adalah Proyek yang Telah Lama Direncanakan

“Uang adalah bagian besar dari ini. Ini adalah kunci untuk setiap kompromi dari sudut pandang Iran,” kata Alex Vatanka, seorang peneliti senior dan pakar tentang Iran di Middle East Institute di Washington DC, kepada Middle East Eye (MEE), Selasa (28/4/2026).

Beberapa pejabat AS dan Arab mengatakan kepada MEE bahwa keengganan Trump untuk melonggarkan anggaran adalah alasan sebenarnya mengapa perundingan antara kedua pihak menemui jalan buntu dan berpotensi gagal.

Iran dilaporkan telah mengajukan proposal terbaru agar kedua pihak mengesampingkan masalah program nuklir dan uranium yang diperkaya Teheran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi masalah nuklir bukanlah kendala terbesar, kata beberapa orang yang mengetahui perundingan tersebut.

“Semua orang punya ide tentang kompromi pengayaan [uranium], tetapi hal tersulit bagi Trump adalah mencabut sanksi. Pemahaman saya adalah bahwa ini lebih sensitif daripada masalah nuklir,” kata seorang mantan pejabat AS yang telah berbicara dengan pejabat Teluk dan AS setelah pembicaraan tersebut, kepada MEE.

Tidak sulit untuk melihat alasannya. Trump membangun kebijakan Iran-nya selama lebih dari satu dekade dengan melancarkan perang ekonomi terhadap negara tersebut, menggunakan kekuatan sistem keuangan AS.

“Trump tidak membantu dirinya sendiri,” kata Vatanka.

“Cara dia salah menggambarkan JCPOA sejak awal telah mempersulit hidupnya sekarang, karena apa pun yang dia lakukan akan diukur berdasarkan apa yang dia kritik terhadap Obama,” imbuh dia, merujuk pada Presiden Barack Obama yang pemerintahannya mencapai kesepakatan JCPOA 2015 dengan AS.

"Ini adalah Taktik Ekonomi Negara"

JCPOA memberikan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembatasan pengayaan nuklir hingga 3,67 persen dan pembukaan fasilitas negara tersebut untuk inspeksi ketat PBB.

Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan tersebut dan memberlakukan kembali sanksi yang melumpuhkan Iran. Dia tidak menunjukkan keinginan untuk berhenti menggunakan kekuatan sistem keuangan AS terhadap Iran, bahkan di tengah gencatan senjata.

Pada Jumat pekan lalu, beberapa jam sebelum kedua pihak seharusnya bertemu di Pakistan, AS memberlakukan sanksi baru terhadap kilang minyak China dan puluhan perusahaan pelayaran dan kapal yang mengangkut minyak Iran. Perundingan di Islamabad pun kembali gagal.

Jika perang berakhir dengan Iran dalam posisi keuangan yang lebih baik daripada saat dimulai, ini akan menjadi hal yang memalukan bagi pemerintahan Trump, kata beberapa diplomat.

Hampir sebulan sebelum AS dan Israel menyerang Iran, Menteri Keuangan AS Scott Bessent merayakan kemenangan di Forum Ekonomi Davos (DEF), menceritakan bagaimana sanksi membuat mata uang Iran, rial, "jatuh bebas" dan rakyat Iran "turun ke jalan".

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |